Senin, 06 Desember 2010

KESADARAN (mind) = NOL (“0”) KEBENARAN = UNIVERSAL

Konon semua makhluk ciptaan Tuhan/Alloh/Sang Pencipta di bumi ini sudah dibelaki dengan Kesadaran. Kesadaran merupakan hakikat keberadaan manusia tertinggi. Kesadaran yakni zat murni yang kekal, tidak berbentuk dan mengisi kekosongan. Kesadaran yaitu hakikat kesempurnaan penciptaan dalam keberadaan (eksistensi) realitas manusia. Kesadaran adalah sesuatu yang berjalan secara alamiah (netral), suatu “software” yang bersifat bebas nilai. Sederhananya, ini dapat dirumuskan dengan bilangan nol (0). Jika nol (0) dikalikan dengan bilangan berapapun, maka hasilnya tetap nol (0). Misalnya yakni; 

0 X 1 = 0
      0 X 2 = 0, dst

Kesadaran sudah ada melekat pada semua makhluk yang ada di jagad raya ini. Bila saja setiap makhluk di bumi ini mencapai tingkat kesadaran sesuai dengan rumus tersebut di atas, maka semua yang dilakukan oleh semua makhluk di bumi ini, dapat berjalan secara alamiah dan harmonis apa adanya.

Ketika kesadaran tidak mencapai pada hasil bilangan “0” (netral), maka sudah dapat dipastikan apapun yang dilakukan oleh seluruh makhluk tidak akan berjalan secara alamiah, apa adanya, sewajarnya, (artinya, pasti mengalami kehancuran karena diberikan makna/nilai).

Sementara, bilangan selain nol (0), bila dikalikan dengan bilangan selain nol (0) maka hasilnya pasti tidak nol (0), misalnya yakni:

• bilangan 1
1 X 1 = 1,
     1 X 2 = 2, dst
• bilangan 2
2 X 1 = 2
     2 X 2 = 4 dst

Artinya, hasil kali dari bilangan selain bilangan nol (0) dan hasilnya juga tidak bilangan nol (0), maka hal tersebut menandakan bahwa tingkat kesadarannya, boleh di bilang belum mencapai tahap sempurna nol (0) atau netral. Hal ini dimungkinkan bahwa makhluk di bumi ini sedang berproses pada tahapnya masing-masing untuk mencapai kembali kesadarannya yang secara alamiah sudah melekat/ada.

Terkadang kesadaran yang sudah melekat secara alamiah atau telah dimiliki oleh semua makhluk, dimana seharusnya berjalan secara apa adanya kini menjadi tidak alamiah lagi. Hal tersebut disebabkan oleh pemberian nilai atau makna oleh makhluk itu sendiri. Bila hal ini menjadi dominan dalam aktivitas kesehariannya, bisa dibilang kesadaran yang sudah ada akan tertutup.

Sehingga pemberian nilai/pemaknaan yang sering dilakukan terus menerus menjadi suatu kebenaran menurut makhluk tersebut. Padahal yang namanya kebenaran adalah sesuatu yang bersifat universal. Artinya, semua makhluk bagian dari anggota bumi ini sudah memiliki kebenaran yang sama, secara konseptual. Sedangkan, pada tahap operasionalisasinya memiliki suatu perbedaan teknis sesuai dengan budayanya masing-masing.

Permasalahanya adalah kita sebagai manusia kurangnya melatih dan mengedepankan kesadaran yang sudah ada secara terus menerus.