MANUSIA DALAM KEHIDUPAN DAN KEBAHAGIAAN

Salam sejahtera, buat seluruh umat manusia sesama warga bumi, semoga dalam keadaan sehat dan berbahagia. Senan tiasa tak bosan-bosan kita saling mengingatkan dan memberi suport satu sama lain dalam berbuat kebaikan di kehidupan ini, kepada siapapun yang kita temui, dimanapun berada, dan kapanpun waktunya.  
Benarkah bahagia, memang seharusnya dimiliki oleh setiap manusia, karena menurut fitrahnya, manusia itu ada/mungkin pandangan lain yakni diciptakan dengan berbagai kelebihan dan kesempurnaan. Bahkan manusia yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk yang lain. Kemudian, Istilah fitrah merupakan bawaan alami, yang sudah melekat pada manusia, tanpa perlu diperoleh melalui usaha. Fitrah adalah eksistensi yang ada dalam kalbu dan nurani kita untuk mendapatkan hakikat kebenaran. Demikiankah seharusnya?
Jika kita menganalisa, makhluk hidup khususnya manusia terdiri dari 2 bagian utama, yaitu Jasmani atau disebut Rupa dan Batin atau disebut Nama. Jasmani dan batin ini terdiri dari Lima Kelompok Kehidupan atau Panca Khandha. Panca Khandha (bahasa Pali) atau Panca Skandha (bahasa Sanskerta) berasal dari kata ”panca” dan khandha”. Panca berarti lima dan khandha berarti kelompok/kumpulan. Jadi panca khandha berarti lima kelompok pembentuk kehidupan.
Jadi, apa yang disebut sebagai makhluk hidup termasuk manusia, dalam pandangan suatu ajaran adalah hanya merupakan perpaduan dari Panca Khandha yang saling bekerja sama secara erat satu sama yang lain. Tidak ditemukan suatu roh yang kekal dan abadi.
Panca Khandha terdiri dari: Bentuk, tubuh, badan jasmani, Kesadaran, Pencerapan, Pikiran, bentuk-bentuk mental, Perasaan. Kelima Khandha ini dapat digolongkan menjadi 2 bagian, yaitu: Pertama, Rupa digolongkan sebagai Jasmani, sesuatu yang berbentuk dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki berikut hal-hal lainnya yang ada dalam tubuh seperti jantung, paru-paru, ginjal, pernapasan, suara, suhu tubuh, dan sebagainya. Rupa atau jasmani ini juga merupakan perpaduan dari 5 unsur, yaitu : unsur padat, unsur cair, unsur api/panas, unsur angin/gerak, dan unsur udara/oksigen. Kedua, Kesadaran digolongkan sebagai Batin, sesuatu yang berada dalam jasmani dan tidak dapat dilihat.
Proses batin secara berurutan yang terjadi ketika jasmani kita melakuan kontak dengan sesuatu. Diawali Pertama, Kesadaran yang keberadaannya dapat kita analisa ketika kita menyadari bahwa bathin kita telah menangkap suatu rangsangan ketika anggota tubuh kita berhubungan dengan sesuatu, misalnya: terjadi kontak antara mata dengan suatu bentuk, terjadi kontak antara jasmani dengan sentuhan, terjadi kontak antara telinga dengan suara, terjadi kontak antara hidung dengan bau-bauan, terjadi kontak antara pikiran dengan situasi.
Kedua, Pencerapan dimana keberadaannya dapat kita analisa ketika batin kita mencerap atau menerima ataupun mengenal rangsangan-rangsangan yang terjadi pada tubuh kita melalui suatu bagian dari otak kita. Ketiga, Pikiran, Bentuk-bentuk mental berarti bentuk-bentuk pikiran yang keberadaannya dapat kita analisa ketika rangsangan pada tubuh yang telah disadari dan dicerap akan dibanding-bandingkan dengan pengalaman kita yang dulu-dulu melalui gambaran-gambaran pikiran yang tersimpan dalam batin kita, yang pernah kita lihat, dengar, sentuh dan lain-lain. Ketiga, Perasaan dimana keberadaannya dapat kita analisa ketika kita telah membanding-bandingan rangsangan kemudian timbul perasaan senang (suka) atau tidak senang (tidak suka), bahagia maupun menderita, dan perasaan netral. Sehingga secara singkat, proses batin yang terjadi ketika tubuh kita menerima rangsangan sebagai berikut: Kesadaran  menuju Pencerapan menuju Pikiran menuju Perasaan, dan proses batin ini terjadi secara cepat.
Karena makhluk hidup khususnya manusia merupakan perpaduan dari berbagai unsur atau kelompok kehidupan, maka sesuai dengan hukum Tiga Corak Kehidupan, maka makhluk hidup apapun juga memiliki sifat tidak kekal, bukan diri sejati, dan dapat menimbulkan penderitaan.
Manusia yang hidup dalam kehidupannya, tidak terlepas dari banyaknya permasalahan yang di hadapi. Karena hidup ini merupakan penderitaan. Itulah konsekuensi logis dari kehidupan, dimana manusia yang hidup pasti menderita. Tetapi ada yang mengatakan bahwa hidup adalah anugerah yang sepantasnya kita syukuri dan rayakan. Sebagian manusia juga ada yang mengatakan bahwa hidup ini menjadi indah apabila kita bisa memberi dengan hati yang tulus dan ikhlas. Pandangan-pandangan yang dikemukakan tersebut sah-sah saja, tetapi coba kita renungkan apakah pandangan yang kita ungkapkan sudah sesuai dengan realitas kehidupan yang kita alami.
Pengertian dari manusia, menurut wikipedia adalah Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda menurut biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin untuk manusia), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain.
Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan. Penggolongan manusia yang paling utama adalah berdasarkan jenis kelaminnya. Secara alamiah, jenis kelamin seorang anak yang baru lahir entah laki-laki atau perempuan. Anak muda laki-laki dikenal sebagai putra dan laki-laki dewasa sebagai pria. Anak muda perempuan dikenal sebagai putri dan perempuan dewasa sebagai wanita.
Penggolongan lainnya adalah berdasarkan usia, mulai dari janin, bayi, balita, anak-anak, remaja, akil balik, pemuda/i, dewasa, dan (orang) tua. Selain itu masih banyak penggolongan-penggolongan yang lainnya, berdasarkan ciri-ciri fisik (warna kulit, rambut, mata; bentuk hidung; tinggi badan), afiliasi sosio-politik-agama (penganut agama/kepercayaan XYZ, warga negara XYZ, anggota partai XYZ), hubungan kekerabatan (keluarga: keluarga dekat, keluarga jauh, keluarga tiri, keluarga angkat, keluarga asuh; teman; musuh) dan lain sebagainya.
Selain itu, manusia adalah makhluk yang berakal budi, yang memiliki daya pikir, kecerdikan, kepandaian, kemampuan, ingatan, perasaan dan kesadaran, serta kecerdasan. Kecerdasan manusia menguraikan manifestasi dari kesadaran (mind) yang merupakan zat murni tertinggi dalam bentuk/wujud pusat-pusat kecerdasan manusia: Kecerdasan Otak (nalar)/(IQ/Intelligence Quotient), Kecerdasan Hati (nurani)/(HQ/Heart Quotient, Kecerdasan Pusat (kekuatan)/(RQ/Response Quotient), Kecerdasan Jiwa (menjiwai)/(PQ/(Psychological Quotient), Kecerdasan Roh (rohani)/(SQ/Spirituality Quotient).
Pusat-pusat kecerdasan ini meleburkan dirinya dalam keselarasan Pikiran-Perkataan-Perbuatan (Akal Budi-Bahasa-Pekerti). Sehingga Pikiran melahirkan Perkataan. Sedangkan Pikiran dan Perkataan melahirkan Perbuatan. Sementara, Akal Budi merefleksikan diri dalam Bahasa. Dan Akal Budi dan Bahasa memvisualisasikan diri dalam Pekerti (Karya=Kerja). Kemudian Watak, karakter, dan perilaku orang (pribadi/individu)terefleksikan dari keselarasan Panca Akal Budi. Jadi, adanya mutu/kualitas sumber daya manusia (SDM) di rujuk dari keselarasan Panca Akal Budi.  
Manusia dilahirkan dengan perasaan mampu melakukan segalanya. Sebelum kemudian dikacaukan oleh pesan-pesan ketidakmampuan yang datang dari lingkungannya. Perasaan mampu itu ditunjukkan dengan keberanian melakukan sesuatu. Bila kita perhatikan tingkah laku bayi berusia 8-9 bulan ke atas ketika ia baru mulai bisa duduk dan mencoba untuk menirukan orang-orang dewasa disekitarnya. Dia akan mengeksplorasi dunianya dengan penuh keberanian walaupun tubuhnya belum siap untuk itu. Karena di kepalanya ia belum memiliki konsep bahwa ia tidak mampu. Dia akan terus bersemangat mencoba melakukan segala hal baru dengan antusias dan tekun. Semua dihadapi 100% dengan penuh semangat, tawa, canda dan air mata.
Berdasarkan pengetahuan yang di dapat, konon bahwa manusia yang memiliki keasadaran tinggi sadar bahwa meskipun selalu berusaha dengan tekun sepenuh hati, ia lebih mengandalkan kekuatan doa dihatinya dibandingkan kekuatan pikirannya apalagi ototnya. Dengan kata lain, ia menyadari bahwa realitas hidupnya lebih ditentukan oleh kualitas pikiran dan perasaannya ketimbang action-nya. Selain itu, manusia dibimbing oleh kekuatan yang lebih tinggi yang lebih berupa perasaan ketimbang pikiran. Benarkah demikian? Sementara, informasi yang di dapat pula bahwa manusia sempurna adalah yang hidup seimbang dan utuh dengan seluruh kecerdasannya. Kecerdasan fisikal, intelektual, emosional dan spiritual. Kecerdasan fisik dan intelektual umumnya kita dapat dari bangku pendidikan, kecerdasan emosional dari pergaulan, dan kecerdasan spiritual dari kematangan pengalaman hidup.     
Perjalanan hidup manusia, ternyata tak bisa lepas dari belenggu konflik, perseteruan, dan permusuhan antar sesama. Bahkan, pada kisaran pergeseran milenium dan pergantian tahun demi tahun, pertentangan itu kian membuncah, meningkat secara kuantitas maupun kualitas. Kini, disekitar kita, makin banyak adegan-adegan brutal dan kriminal, baik dalam bentuk aksi kekerasan massal, perang antar elite politik, sampai peristiwa-peristiwa pemboman disejumlah lokasi di bumi pertiwi ini, terutama kota-kota besar Jakarta.
Ketika banyak kekacauan, kerusuhan, bahkan hingga pertumpahan darah, dibumi ini, yang disebabkan oleh manusia, hanya karena adanya ketidakcocokan/kesesuaian/keinginan pandangan/paradigma/idealisme perseorangan atau golongan. Sesama manusia saling menyalahkan, dan menganggap pendapatnya yang paling benar, baik perseorangan maupun golongan/berjamaah. Saat itu pula manusia lupa bahwa sebenarnya kebenaran yang dimilikinya adalah kebenaran alamiah, secara fitrahnya sama dengan kebenaran yang dimiliki manusia lainnya. Artinya secara universal, kebenaran itu dapat diterima oleh manusia lainnya, bukan kebenaran milik perseorangan/golongan tertentu. Bila manusia yang sadar dan mau berfikir dengan hati tenang dan cerdas bahwa konsep kebeneran sudah dimiliki/ada melekat pada dirinya masing-masing sejak ia berada di bumi.
Kebenaran atau dalam bahasa Pali disebut dengan sacca, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti keadaan (hal dan sebagainya) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya. Jadi, kebenaran tidak selamanya menyangkut mengenai masalah moral semata. Adapun kebenaran itu, terdiri dari Pertama, kebenaran mutlak (absolute) yaitu suatu kebenaran yang harus memiliki persyaratan/kriteria; (1). harus benar (apa adanya), (2) Tidak terikat oleh waktu, baik waktu dulu, sekarang dan waktu yang akan datang, kebenaran ini tetap ada dan tidak berubah ataupun berbeda, (3). Tidak terikat oleh tempat, baik di suatu tempat atau di tempat lain, di Indonesia atau di planet Mars, kebenaran ini ada dan tidak berubah ataupun berbeda. Kedua, kebenaran relatif adalah kebenaran yang masih terikat dengan waktu dan tempat. Kebenaran ini hanya ada berlaku di tempat tertentu dan waktu tertentu.
Disadari atau tidak, fenomena yang terjadi akibat ulah manusia, itu jelas merupakan pantulan konkret dari berbagai konflik, perseteruan atau permusuhan yang terjadi selama ini, baik yang berlangsung di level elite politik dan pemerintahan maupun di tingkat kelompok masyarakat dan individu. Fenomena tersebut tentu saja merupakan masalah laten, yang apabila terlambat disadari dan ditangani, akan potensial merusak simpul-simpul peradaban, bahkan dapat mengancam relasi sosial antar manusia, serta merusak keutuhan bangsa dan negara, bahkan dunia sekalipun.
Itulah manusia yang konon berakal budi, yang memiliki daya pikir, kecerdikan, kepandaian, kemampuan, ingatan, perasaan dan kesadaran. Tetapi, karena terciptanya sesuatu yang menimbulkan dosa/ketidakbaikan; kebencian, keserakahan dan ketidaktahuan, maka orang yang seharusnya menjunjung tinggi nilai kemanusiaan justru menjadi sebaliknya, kejam, sadis, garang, bengis; suka merusak, menganiaya, menyakiti, membunuh; tidak ada cinta kasih, kasih sayang, simpati dan kebijakan serta sama sekali tidak ada sifat kemanusiaan.
Banyaknya peristiwa-peristiwa yang mengerikan adanya kekacauan, perseteruan antar sesama warga bumi hingga terjadi pertumpahan darah/pembunuhan di sana sini secara berjamaah/massal adalah wujud dari hilangya sifat manusiawi. Terkadang peristiwa tersebut demikian transparannya dan jelas sekali sehingga mungkin orang akan dengan mudah mengatakan begitu kejam dan sadisnya orang itu sampai tega melakukan pembunuhan kepada sesama manusia.
Namum sesungguhnya, sikap dan perbuatan yang mencerminkan ketiadaan nilai kemanusiaan itu hampir setiap hari kita jumpai. Adanya penindasan/intimidasi dari yang besar kepada yang kecil, yang kuat kepada yang lemah, yang mayoritas kepada yang minoritas; perampokan, perampasan, penganiayaan, penyiksaan, pembunuhan dan lainnya adalah cermin dari hilangnya sifat kemanusiaan dan hal ini dapat kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari.
Padahal bila kita mencoba untuk hidup sebagai manusia sejati tanpa mengganggu orang lain, tanpa menyakiti orang lain, semua dapat hidup dengan damai tanpa rasa takut. Kalau kita semua menyadari bahwa perkembangan dan kemajuan kehidupan yang dewasa ini sedang bergulir memiliki dampak yang negatif dalam kehidupan umat manusia.
Hal ini, secara tanpa sadar banyak orang yang terperangkap dalam belaian atau cengkraman tangan-tangan baja materi. Artinya pola pikir dan pandangan hidupnya menjadi materialistis. Sehingga, segala hal dan urusan ditakar atau diukur dengan nilai materi, mereka tenggelam dalam kegemerlapan dan keindahan materi, dibuat terkagum-kagum atas perkembangan dan kemajuannya yang begitu pesat. Akan tetapi, harus diingat bahwa kemajuan yang tidak seimbang itu harus dibayar mahal, yaitu merosotnya nilai spiritual pada diri umat manusia.
Pada dasarnya setiap manusia adalah orang yang sangat berharga yang dalam dirinya terdapat kebaikan dan juga kebiasaan buruk. Adanya kebaikan dalam diri seseorang selalu menanti kesempatan yang sesuai untuk berbunga dan matang. Karena, bagi kita tanpa di sadari bahwa ada begitu banyak hal-hal yang baik di dalam keburukan kita dan begitu sebaliknya, banyak hal-hal buruk dalam kebaikan kita.
Untuk itu, kita perlu mengabdikan hidup diri sebagai seorang yang hidup dengan kesederhanaan, menghayati dan menyelami kebenaran perbuatan-perbuatan yang baik, mengembangkan nilai-nilai spiritual dan menjunjung tinggi norma kemanusiaan walau ditengah-tengah gencarnya orang-orang mencari dan menyanjung kegemerlapan materi sebagai simbul-simbul kehidupan.
Kebanyakan manusia/semua orang tidak mengetahui bahwa dirinya/siapapun bertanggung jawab untuk perbuatan baik dan buruknya sendiri dan bahwa setiap individu dapat membentuk nasibnya sendiri pula. Semua jenis kehendak, perbuatan yang baik maupun buruk/jahat, yang dilakukan oleh jasmani, perkataan dan pikiran, yang baik maupun yang jahat, maka bisa di sebut karma/sering disebut sebagai Hukum Karma yang merupakan salah satu hukum alam yang bekerja berdasarkan prinsip sebab akibat. Selama suatu makhluk berkehendak, melakukan karma (perbuatan) sebagai sebab maka akan menimbulkan akibat atau hasil.
Para leluhur jawa mengatakan; "Sopo nandhur bakalan ngundhuh wohe...Sesuai dengan benih yang di tabur, begitulah buah yang akan dipetiknya...Pembuat kebajikan akan mendapatkan kebaikan, pembuat kejahatan akan memetik kejahatan pula...Taburlah biji-biji benih dan engkau pulalah yang akan merasakan buah dari padanya". Jadi jangan takut kalau buanyak orang di bumi ini membuat sesuatu yang merugikan kita dalam hal apapun di semua lini kehidupan ini. Toh nantinya dia pulalah yang akan memetik hasil perbuatannya.
Secara tegas dikatakan bahwa kesedihan kita di buat oleh diri kita sendiri dan tidak diturunkan oleh kutukan/dosa asal dari leluhur. Begitu juga adanya kepercayaan yang mengatakan bahwa dunia ini semata-mata merupakan suatu tempat percobaan dan pengujian. Selain itu, manusia bukanlah suatu percobaan hidup yang dapat dicampakkan jika tidak di inginkan. Apabila dosa dapat diampuni, orang akan mengambil kesempatan dan melakukan lebih banyak dosa lagi. Ingat-ingat bahwa dunia ini dapat dibuat sebagai tempat dimana kita dapat mencapai kesempurnaan tertinggi, kesempurnaan adalah sinonim dengan kebahagiaan.
Kita perlu cerdas dan jeli dalam menyikapi suatu kepercayaan. Terlebih memiliki alasan untuk percaya bahwa pendosa dapat lepas dari konsekuensi perbuatannya dengan kemurahan dari suatu kekuatan eksternal. Suatu contoh, jika kita menyorongkan tangan ke dalam pembakaran, tangan akan terbakar dan semua doa di dunia tidak akan menghilangkan lukanya. Sama halnya dengan manusia yang berjalan ke dalam api perbuatan jahat. Hal ini tidak berarti bahwa setiap perbuatan salah otomatis akan berakibat reaksi tertentu.
Perbuatan yang jahat diawali dengan pikiran jahat, jika seseorang memurnikan pikiran, maka efek perbuatan sebelumnya dapat terkurangi atau terhapus seluruhnya. Pendekatan pada masalah-masalah penderitaan bukan khayalan, spekulasi/metafisik tetapi berdasarkan pengalaman dan apa adanya.
Perlu kiranya kita mengedepankan suatu perhatian yang benar dan bisa diwujudkan dalam bentuk tindakan di kehidupan ini. Perhatian yang harus diperhatikan yakni; perhatian penuh terhadap badan jasmani, perasaan, pikiran, dan perhatian penuh terhadap mental/batin. Selain itu juga, perlu metode yang baik yaitu belajar, memahami, dan berlatih serta mengalami hasilnya,inilah jalan untuk hidup di dunia ini untuk terlepas dari penderitaan. Karena hidup adalah penderitaan dan itu merupakan konsekuensi logis, jadi tidak menggantungkan sesuatu yang konon memiliki kekuatan dapat membantu diri kita. Ingat-ingat yang dapat menolong kita di kehidupan ini adalah diri kita sendiri.
Berpikirlah...dengan berpikir cerdas dan benar maka hasilnya akan benar pula. Karena pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara/berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya, bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya. Sebaliknya bila seseorang berbicara/berbuat dengan pikiran murni, maka kebahagiaan akan mengikutinya, bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya.
Kecenderungan manusia adalah bila melakukan sesuatu yang tidak baik menurut norma agama dalam kehidupan merupakan dosa, dan pelakunya disebut orang jahat. Dosa...Apa dosa itu? dosa adalah perbuatan yang keliru atau tidak bermanfaat yang menciptakan kejatuhan manusia. Sedangkan orang jahat adalah orang yang gelap batin, bukan hukuman dan kutukan saja untuk membuat dia mengerti akan perbuatan jahatnya tetapi yang ia perlukan hanyalah bimbingan untuk pencerahannya.
Semua yang diperlukan adalah adanya seseorang untuk menolongnya menggunakan akalnya untuk menyadari bahwa ia bertanggung jawab atas perbuatan kelirunya dan bahwa ia harus membayar konsekuensinya. Karena itu kepercayaan akan pengampunan itu hal yang kurang tepat, walaupun seharusnya setiap umat manusia didorong untuk menyadari perbuatan mereka yang salah dan mengingatkan diri mereka sendiri untuk tidak mengulangi kesalahan itu.
Adanya suatu ajaran sebagai pencerahan di dunia ini yang dilakukan oleh manusia siappun ia, tujuannya bukanlah untuk mencuci dosa yang di lakukan oleh manusia ataupun untuk menghukum/menghancurkan orang jahat. Akan tetapi, agar supaya orang memahami bahwa betapa bodohnya melakukan kejahatan itu dan menunjukan akibat dari perbuatan jahat semacam itu. Oleh sebab itu, tidak ada perintah dalam mengajarkan suatu ajaran, karena tidak seorangpun yang dapat mengendalikan kemajuan spiritual orang lain. Dan yang ada hanyalah sebagai motivasi kita untuk mengembangkan dan menggunakan pemahaman kita. Ajaran/nasehat itulah yang telah menunjukkan kita jalan untuk pembebasan kita dari penderitaan.
Sedangkan aturan ajaran/nasehat yang kita coba jalani dalam kehidupan, merupakan sila sebagai praktik sehari-hari bukanlah perintah, hal ini didefinisikan sebagai aturan pelatihan yang di jalankan seseorang secara sukarela, tanpa adanya paksaan untuk pengembangan spiritualnya. Selain itu juga, bagaimana menjalankan kehidupan murni tanpa menetapkan perintah dan menggunakan ketakutan akan hukuman. Kemudian, sebagai nasehat yang harus di pikirkan, dan bila sesuai dengannya segera dipraktikkan, dan hasilnya dapat di lihat melalui pengalamannya sendiri.Sebab konsekuensinya, bila dipraktikan/tidak dipraktikkan ajaran/nasehat tersebut, maka akibatnya akan di tanggung sendiri.
Agar mendapatkan hasil yang baik dari konsekuensi logis, perilaku dalam kehidupan ini, maka perlu kiranya menjalankan sila, misalnya tidak boleh membunuh mahluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, prilaku seks yang salah, berkata bohong, meminum obat yang mencandu dan minuman keras. Ingat..ingat.. “memahami dirimu sendiri adalah awal kebijaksanaan”....
Bicara soal manusia dan kehidupan serta kebahagiaan sangat terkait sekali. Manusia dalam hidupnya memerlukan suatu kebutuhan untuk jasmani dan rohaninya. Kebutuhan jasmani yang harus dipenuhi yakni makanan. Tidak hanya manusia, dalam hidupnya memerlukan kebutuhan makanan. Sedangkan makhluk yang lain pun memerlukannya. Memang semua makhluk hidup membutuhkan makanan untuk kelangsungan hidupnya. Tetapi harus dimengerti bahwa makanan itu tidak hanya satu ialah materi yang merupakan makanan badan jasmani. Bukan berarti, bila yang dimaksud dengan yang satu itu adalah makanan kemudian kita hanya mengutamakan tentang pentingnya mendapat makanan, tanpa mengindahkan norma spiritual. Makhluk manusia adalah terdiri dari beberapa unsur atau kelompok kehidupan, sehingga untuk memenuhi kebutuhannya sudah tentu sesuai dengan kebutuhan hidup kelompoknya.
Macam makanan yang di makan oleh manusia antara lain; makanan yang berbentuk atau berupa materi atau benda, makanan yang berupa obyek-obyek indria, makanan yang berbentuk obyek kesadaran, dan makanan yang berupa kehendak atau kemauan. Itulah yang dimaksud dengan makanan, bukan hanya kebutuhan yang diperlukan oleh jasmani melainkan secara lengkap, yaitu; makanan yang berupa materi dan makan yang berupa kebenaran yang merupakan kebutuhan batin. Dengan memenuhi kebutuhan hidup yang lengkap, maka moral spiritual yang merupakan urat nadi dari sifat kemanusiaan akan tumbuh dan berkembang. 
Terlebih dengan menghayati dan menyelami cinta kasih dan kasih sayang, kesabaran dan pengertian benar, maka orang beragama tidak hanya retorika dan ritualis belaka, tetapi orang akan menjiwai dan meresapi agama sebagai pedoman hidup. Dengan penyelaman (hukum/aturan) dengan baik maka spiritualitas berkembang dengan kokoh dan nilai kemanusiaan akan menjadi bagian dari realisasi dan hasil dari penyelaman hukum/aturan.
Masih terkait dengan kehidupan manusia di bumi ini, ternyata dalam hidupnya manusia pasti tidak terlepas dari kesusahan (rasa susah), kesenangan (rasa senang), kebahagiaan (rasa bahagia) dan sebagainya. Kita semua telah tahu, untuk membuat dan memberikan beban kepada hidup kita, sehingga kita merasa berat, lelah, dan ingin terbebas darinya.
Kesenangan (rasa senang), kebahagiaan (rasa bahagia) dan sebagainya, ternyata juga merupakan beban bagi hidup kita. Mengapa demikian? Karena dengan menikmati atau merasakan rasa bahagia itu - yang memang merupakan dambaan setiap orang, kita ingin mempertahankan kebahagiaan kita itu. Usaha-usaha maupun upaya-upaya untuk mempertahankan tersebut sudah merupakan kerja berat - beban yang melelahkan! Belum lagi kalau kita gagal mempertahankannya, kebahagiaan tersebut berubah menjadi kekecewaan, kekesalan, kesusahan, yang kembali lagi itu jelas merupakan beban yang tak menyenangkan bagi hidup kita!. Itulah rentannya kebahagiaan semacam ini, betapa gotahnya dia, yang demikian mudah berubah, bagaikan beban dalam kehidupan.
Begitulah kebahagiaan yang banyak dicari manusia, kebahagiaan yang bukan sekedar kesenangan atau kenyamanan-kenyamanan hidup semata. Akan tetapi kebahagiaan yang merupakan subjek primordial dan banyak dicari yakni kebahagiaan secara praktis seperti yang banyak tertuang dalam kebijaksanan nenek moyang, penjelasan ilmiah, ajaran/nasehat-nasehat. Inilah kebahagiaan yang memiliki sifat dasar alamiah/fitrah manusia dan karena itu sewajarnyalah bisa dengan mudah untuk manusia raih. Bukankah kebahagiaan di dunia ini hanya akan kita dapatkan dengan mengenal siapa diri kita yang sebenarnya. 
Selanjutnya, bagaimana agar kita sebagai manusia benar-benar menikmati dan merasakan hidup yang damai, yang tanpa beban dan ancaman beban tersebut? Apakah kita harus pasrah dengan suatu keadaan/kondisi apapun yang terjadi/menimpa pada diri kita dalam kehidupan ini. Atau kata pepatah jawa mengatakan ”nrimo ing pandum”.Guna menyiasati kehidupan ini, untuk mencapai kebahagiaan, terkadang kita perlu suatu metode bagaimana bisa melatih pikiran sampai mencapai ketenangan. Adapun metode tersebut bisa juga dengan cara meditasi/dengan cara bisa menggunakan perenungan yang semua itu untuk mendapatkan ketenangan pikiran, sehingga menimbulkan pengertian benar. Sebab ketenangan pikiran akan selalu bisa menerima keadaan apapun, sehingga mampu mempengaruhi pikiran yang tenang dan kondisi tidak menyenangkan juga tidak mempengaruhi pikirannya.
Tidak hanya itu saja, masih ada metode yang harus dijalankan manusia agar bisa untuk mengerti dan menerima dengan apa adanya, hal-hal yang terjadi dalam kehidupan ini, serta melepaskan/tidak terikat dengan apa yang terjadi. Sehingga dengan demikian, manusia akan benar-benar merasakan kedamaian, bukan lagi sekesar kebahagiaan semacam itu, kebahagiaan yang bersyarat atau terkondisi!.
Ubahlah dunia dengan cara belajar bagaimana membedakan apa yang dapat kulakukan dengan kekuatanku dan apa yang di luar kemampuanku, apa yang tergantung padaku dan apa yang tidak tergantung pdaku. Artinya gunakanlah kekuatanmu sesuai kemampuanmu, dan lupakan apa yang diluar kekuatanmu, apa yang engkau tak sanggup mengubahnya. Sebenarnya di dalam dirikulah segala hal tersebut berakar, artinya bahwa setiap manusia harus mengenali dirinya sendiri. Bersyukurlah pada mereka yang telah membuatmu senang & bahagia dan bersyukur pula pada mereka yang menyebabkan derita dan frustrasi. Karena melalui merekalah, kehidupan mengajarkanmu apa yang perlu engkau kuasai dan jalan apa yang harus kau tempuh. Untuk itu, terimalah dirimu dengan cara bahwa membenci dan menolak sebagian dari diriku sendiri, sama saja dengan mengutuk  untuk tidak pernah berdamai dengan diri sendiri.
Diharapkan manusia belajarlah untuk menerima dirinya seutuhnya, secara total dan tanpa syarat. Begitu juga terimalah sesamamu dengan cara bahwa dengan berdamai dengan diriku, aku tidak punya sesuatupun untuk dipersalahkan pada orang lain, tak sesuatupun yang perlu ditakutkan dari merela. Karena aku belajar untuk menerima dan mencintai mereka apa adanya.
Kebahagiaan yang hakiki dapat dicapai juga dengan menyadari bahwa manusia harus menerima dunia dengan cara bahwa dunia sebenarnya adalah cermin dari jiwanya. Artinya bahwa jiwanya manusia tidak melihat dunia melainkan melihat dirinya sendiri di dalam dunia. Ketika jiwanya senang, maka dunia pun menjadi tempat yang menyenangkan dan ketika jiwanya muram, maka dunia pun kelihatannya muram. Padahal dunia itu sendiri tidaklah menyenangkan atau muram. Hanya saja ia ADA, itu saja. Bukanlah dunia yang membuatku terganggu, melainkan ide yang aku lihat mengenainya, sehingga aku belajar untuk menerimanya tanpa menghakimi, menerima seutuhnya tanpa syarat. Pelajaran inilah yang mahal harganya, karena kesadarannyalah, manusia mau menerima sesuatu apa adanya. Hal inilah yang patut di contoh oleh kita sebagai manusia.
Lebih lanjut, kalau kita mau menyadari bahwa adanya manusia ke bumi ini, tentunya banyak melalui proses yang sangat amat rumit. Tetapi terkadang manusia tidak pernah memperhatikan dirinya sendiri kenapa dia ada disini. Suatu proses yang nantinya akan di alami manusia dalam hidupnya yakni kemerosotan dan penghancuran semua fenomena yang berkondisi. Artinya setiap manusia yang hidup pasti lambat laun seiring bergulirnya waktu setiap saat, tentunya manusia mengalami kemerosotan dalam jasmani secara alamiah. Kemudian bagaimana caranya mereka mengalami kemerosotan tersebut?
Misalnya kita dapat mengambil suatu contoh sebongkah es. Pada mulanya ia hanyalah air..mereka membekukannya dan ia menjadi es. Tapi tidak diperlukan waktu yang lama sebelum ia mencair. Ambil sebongkah es yang besarnya sperti balok paku bumi, dan biarkanlah ia diterpa sinar matahari. Kemudian kalian dapat melihat bagaimana ia berkurang, seperti halnya dengan tubuh kita. Ia akan terurai secara bertahap. Selanjutnya, dalam beberapa jam atau menit saja, yang tinggal hanyalah kubangan air. Ini yang disebut melapuk dan terurainya semua benda-benda yang berkomposisi. Hal ini terjadi tentunya telah berlangsung untuk jangka waktu yang lama, dimulai sejak berawalnya waktu. Disaat kita lahir, kita membawa sifat alamiah yang tak terpisahkan ini ke dunia bersama kita, dan kita tidak dapat menghindarinya. Pada saat lahir, kita membawa usia tua, sakit dan kematian bersama kita.
Jadi kita semua ini adalah sesuatu bongkahan yang nantinya akan hancur, dan untuk saat ini bongkahan tersebut masih keras, seperti bongkahan es. Ia bermula dari air, menjadi es untuk beberapa saat dan kemudian mencair lagi. Adakah kalian lihat perubahan ini di dalam diri kalian? Cobalah lihat tubuh ini. Dia akan menjadi semakin tua setiap hari, dimana rambut menua, kuku menua, dan semuanya menjadi tua. Kalian tidak seperti ini sebelumnya, bukan? Atau mungkinkah kalian jauh lebih kecil. Sekarang kalian sudah tumbuh berkembang dan dewasa. Mulai dari sekarang kalian akan merosot, mengikuti jalan alamiah. Tubuh akan melapuk, sama seperti bongkahan es. Tak lama lagi, seperti es, semuanya akan hilang.
Bila manusia sadar dan mengerti akan sesuatu yang terdapat dalam dirinya bahwa semua tubuh terdiri dari empat unsur yakni dari tanah, air, angin dan api. Tubuh adalah tempat pertemuan dari tanah, air, angin dan api, yang kemudian kita sebut sebagai orang. Awalnya sangat sulit untuk menyebutkan panggilan apa yang akan kalian pakai, tetapi kini kita menyebutnya “orang”.
Tanpa sadar bahwa kita dibodohi olehnya, menyebutnya seorang pria, wanita, memberinya nama-nama, Tuan, Nyonya, dan seterusnya. Hal ini tentunya agar kita dapat menandai satu sama lain dengan lebih mudah. Tetapi sebenarnya tidak ada seorang pun di sana. Mereka hanyalah tanah, air, angin, dan api. Yang semua itu bersifat padat di dalam tubuh, daging, kulit, tulang dan seterusnya, disebut unsur tanah. Sementara itu, bagian-bagian tubuh yang bersifat cair adalah unsur air. Sedangkan bagian tubuh yang hangat adalah unsur api, serta udara yang mengalir dalam tubuh adalah unsur angin.
Bagaimana dengan tengkorak yang tidak terlapisi adanya daging dan kulit, hanya tulang belulang saja. Kalau kita cermati, dengan melihatnya pasti kita tidak memiliki perasaan dan pandangan bahwa ia adalah pria ataupun wanita. Banyak orang-orang saling bertanya apakah itu seorang pria atau wanita dan kemudian satu-satunya yang bisa mereka lakukan hanyalah melongo satu sama lain. Ia hanyalah sebuah tengkorak, semua kulit dan dagingnya telah hilang.
Adanya hal tersebut, dari kebanyakan orang tidak memperdulikan hal-hal ini. Tanpa sadar, bahwa tengkorak yang dilihatnya adalah kerangka manusia yang juga sama pada dirinya. Bahkan tidak hanya itu, terkadang manusia melihat wujud tengkorak malah merasa takut sendiri. Padahal tengkorak itu sendiri adalah salah satu bagian dari diri mereka yang sangat penting. Bila manusia takut akan tengkorak, apakah mereka tidak merenungkan nilai yang begitu besar dari sebuah tengkorak. Sadarkah bahwa mereka dilahirkan dengan tengkorak? Bagaimana seandainya manusia tanpa tulang, bisakah bila melakukan perjalanan yang jauh? Untuk itu, sangatlah beruntung jika manusia mempunyai kesempatan untuk melihatnya sekarang.
Ketika manusia melihat tengkorak merasa takut, itu menunjukkan bahwa mereka sama sekali tidak dekat dengan diri mereka sendiri, mereka tidak benar-benar mengenali diri mereka sendiri. Bahkan sesudah melihatnya,  bayangan tengkorakpun di benak mereka masih teringat dengan jelas. Merekapun makin gelisah dan terkadang tidak bisa tidur selama beberapa hari, karena takut. Tanpa sadar bahwa sebenarnya mereka tidur dengan tengkorak, juga berpakaian dengannya, melakukan semuanya dalam kehidupan ini bersama tengkorak. Hal ini menunjukkan sudah sebegitu jauh orang-orang dari diri mereka sendiri.
Seharusnya manusia lebih pintar dan tidak bodoh, ketika mereka melihat adanya rambut, kuku, gigi, dan kulit mereka sendiri dengan cara melihat sebagaimana adanya. Artinya melihat dengan kebenaran, bukan melihat dengan cara dangkal. Kita tidak akan terbenam dalam benda-benda, bila kita dapat melihat benda-benda sebagaimana mereka adanya. Rambut, kuku, gigi dan kulit…Apakah sebenarnya mereka itu? Apakah mereka cantik? Apakah mereka bersih? Apakah mereka memiliki substansi yang nyata? Apakah mereka stabil? Tidak…mereka itu tidak ada apa-apanya. Mereka tidak cantik, tapi kitalah yang membayangkan mereka cantik. Mereka tidak memiliki substansi, tapi kitalah yang membayangkan mereka seolah-olah memiliki substansi.
Kebanyakan manusia hanya bisa terpaku pada hal-hal seperti adanya  rambut, kuku, gigi, dan kulit. Bukankah itu hanya sebagai objek dasar agar manusia dapat mengetahui hal-hal ini. Mereka itu fana, tidak sempurna dan tidak mempunyai pemilik; mereka bukanlah “saya” atau “mereka”. Kita lahir dengan diikuti dan dibohongi oleh hal-hal ini, tapi memang benar mereka itu kotor. Anggaplah kita tidak mandi selama seminggu, sanggupkah kita untuk berdekatan satu sama lain? Yang jelas kita akan menjadi sangat bau. Apabila orang berkeringat banyak, sudah jelas sangat bau, bila bau tersebut di hilangkan dengan cara membasuh diri kita dengan sabun dan air, maka baunya hilang seketika, dan wangi dari sabun menggantikannya. Menggosokkan sabun ke tubuh bisa saja membuatnya seolah-olah wangi, tapi sebenarnya bau busuk dari tubuh itu tetap di sana, hanya untuk sementara saja ditutupi. Ketika wangi sabun hilang, bau badan akan kembali lagi.
Sekarang, kita cenderung berpikir bahwa tubuh kita ini indah, penuh kenikmatan, tahan lama dan kuat. Kita cenderung berpikir bahwa kita tidak akan pernah tua, sakit atau mati. Kita dirayu dan ditipu oleh tubuh kita, dan kita begitu mengacuhkan tempat perlindungan yang sebenarnya di dalam diri kita sendiri. Tempat berlindung yang sebenarnya adalah batin kita. Batin adalah tempat perlindungan kita yang sejati, bukan ruangan yang besar.
Bisa saja kita mengatakan bahwa ruangan yang sangat besar itu milik kita, dimana tempat berlindungnya burung merpati, tokek, kadal, dan sebagainya. Tetapi kita harus berpikir jernih bahwa ruangan yang besar tersebut sebenarnya bukan milik kita. Kita tinggal di sini bersama-sama dengan semua yang lain. Ini hanya tempat perlindungan sementara, tak lama lagi kita harus meninggalkannya. Orang-orang menganggap tempat ini sebagai tempat untuk berlindung.
Tugas manusialah untuk mencari dan menemukan tempat berlindungnya. Tahukah anda tentang hal ini? Itu artinya untuk menemukan batin kalian yang sebenarnya. Batin ini sangatlah penting. Orang-orang jarang melihat pada hal-hal yang penting, mereka menghabiskan kebanyakan waktu mereka untuk memperhatikan hal-hal yang tidak penting. Sebagai contoh, ketika mereka membersihkan rumah, mereka begitu berkonsentrasi membersihkan rumah, mencuci piring dan seterusnya, tapi mereka gagal memperhatikan batin mereka sendiri. Batin mereka mungkin sudah busuk, mereka mungkin merasa marah, mencuci piring dengan wajah cemberut. Ketika batin mereka tidak begitu bersih, mereka gagal memperhatikannya. Inilah yang disebut “mengambil tempat perlindungan yang sementara”.
Kebanyakan dari mereka memperindah rumah dan tempat tinggal, tapi mereka tidak berpikir untuk memperindah batin mereka, tidak mengkaji penderitaan. Padahal batin ini adalah sesuatu yang penting. Adanya nasehat/ajaran mengajarkan untuk menemukan tempat perlindungan di dalam batin kalian sendiri. “Jadikanlah dirimu sebagai tempat berlindung bagi dirimu sendiri”. Siapa lagi yang bisa menjadi tempat perlindungan bagi kita sebagai manusia?
Tempat perlindungan yang sejati adalah batin, tidak ada yang lain. Kita bisa saja mencoba untuk bergantung kepada hal-hal lain, tapi semua bukanlah hal yang pasti. Kalian baru dapat benar-benar bergantung pada yang lain, hanya jika kalian sudah menemukan tempat perlindungan di dalam diri kalian sendiri. Kalian harus memiliki tempat perlindungan sendiri terlebih dahulu sebelum kalian dapat bergantung pada yang lainnya, apakah itu seorang guru, keluarga, teman-teman ataupun kerabat.
Jadi, sebaiknya tanyakanlah diri kalian sendiri, “Siapakah saya? Mengapa saya ada di sini?” “Mengapa saya dilahirkan?” Pertanyaan-pertanyaan inilah yang kerap kali tidak banyak diketahui oleh beberapa orang dalam kehidupannya. Mereka menginginkan kebahagiaan, tetapi penderitaan tak pernah berhenti. Kaya atau miskin, muda atau tua, mereka sama-sama menderita. Semuanya adalah penderitaan. Dan mengapa? Karena mereka tidak memiliki kebijaksanaan. Yang miskin tidak bahagia karena mereka tak berkecukupan, dan yang kaya tidak bahagia karena terlalu banyak yang harus mereka jaga. Itulah fenomena kehidupan yang seharusnya di sadari oleh manusia dengan kesadaran alamiahnya.
Semua kehidupan adalah penderitaan, penderitaan timbul dari nafsu/keinginan, berhentinya nafsu berarti berakhirnya penderitaan, berhentinya nafsu dicapai dengan mengikuti jalan mulia berunsur delapan, mengendalikan tingkah laku, pikiran dan kepercayaan seseorang. Benarkah pengetahuan terhadap tinggi tanpa suatu wahyu? kemungkinan penebusan tanpa penebus perantara, keselamatan yang setiap insan adalah penyelamat dirinya sendiri. Sehingga, perlu adanya nasehat/ajaran yang menandaskan setiap orang harus mengupayakan keselamatannya sendiri, dengan melihat kedalam pikiran/kesadarannya sendiri untuk memperoleh pencerahan.
Pikiran yang tumbuh dewasa dapat dengan mudah memahami gagasan tentang suatu alam semesta yang dibimbing oleh hukum yang tidak berubah, sama seperti ia dapat memahami konsep tentang diri pribadi yang jauh yang tak pernah dilihatnya, yang tinggal ditempat yang tidak diketahuinya dan yang pada suatu waktu menciptakan dari ketiadaan suatu alam semesta yang dirembesi oleh permusuhan, ketidakadilan, kesempatan yang tidak merata & penderitaan serta perselisihan yang tiada henti-hentinya.
Seluruh alam semesta terliputi adanya dhamma. Dhamma merupakan hukum abadi yang meliputi alam semesta yang membuat segala sesuatu bergerak sebagai dinyatakan oleh ilmu pengetahuan modern, seperti ilmu fisika, kimia, biologi, astronomi, psikologi dan sebagainya. Adanya sang bulan timbul atau tenggelam, hujan turun, tanaman tumbuh, musim berubah, hal ini semuanya tidak lain karena disebabkan oleh adanya dhamma. Benarkah demikian? Mengapa segala fenomena mengalami perubahan atau tidak kekal? Tentunya hal ini dikarenakan sudah menjadi sifat alami dari segala sesuatu yang terbentuk dari perpaduan unsur akan mengalami perubahan, dan ketidakkekalan.
Sejalan dengan hal itu, mengapa pula segala fenomena tidak memuaskan dan menimbulkan beban berat atau penderitaan? Benarkah jawabannya bahwa hal ini dikarenakan segala fenomena tersebut mengalami perubahan, tidak kekal. Dan ketika kita tidak bisa memahami dan menerima bahwa segala fenomena selalu mengalami perubahan, tidak kekal, maka timbul perasaan ketidaksukaan, ketidakpuasan pada diri kita dan akhirnya menimbulkan beban berat atau penderitaan.
Selain menyadari bahwa konsekuensi dari kehidupan adalah penderitaan, maka semua orang tanpa kecuali harus mengalami kelahiran, penyakit dan kematian. Begitu juga, manusia perlu kiranya menyadari bahwa duka - cita itu bersifat universal, maka putuskanlah untuk mencari jalan keluar bagi penyakit umat manusia yang bersifat universal ini. Tepat kiranya untuk mengakhiri penderitaan hanya dengan dhamma.
Dhamma berarti kesunyataan mutlak, kebenaran mutlak/hukum abadi dan tidak hanya ada dalam hati sanubari manusia dan pikirannya, tetapi juga dalam seluruh alam semesta. Selain itu, merupakan kebenaran semesta dari segala sesuatu yang berbentuk dan yang tidak berbentuk. Sedangkan sifatnya adalah abadi, serta ia tidak dapat berubah/diubah. Dengan demikian hukum abadi (dhamma) itu akan tetap ada sepanjang jaman. Sehingga ketika manusia dalam berada dhamma, maka ia akan dapat melepaskan dirinya dari penderitaan dan akan mencapai akhir semua derita.
Akhir derita hanya dapat dicapai dengan meningkatkan perkembangan bathin. Perkembangan bathin ini hanya dapat terjadi dengan jalan berbuat kebajikan, mengendalikan pikiran dan menyucikan batin, sehingga dapat menaklukan badai di hati serta mengembangkan cinta kasih dan kasih sayang dalam dirinya kepada semua mahluk. Itulah suatu pandangan tentang hukum abadi, yaitu hukum-hukum universal sebagai kekuatan di atas hidup keduniawian yang fana ini terletak suatu tujuan yang lebih tinggi yang menerangi serta membangun kekuatan-kekuatan batin yang baik untuk diarahkan pada tujuan yang luhur dan suci. Jadi, suatu nasehat/ajaran yang baik, adalah ajaran yang berlandaskan cinta kasih, tanpa mengenal dan menggunakan kekerasan.
Seharusnya manusia menyadari akan tujuan dari hidup ini, yakni untuk mengembangkan belas kasih bagi semua makhluk hidup tanpa diskriminasi dan bekerja untuk kebaikan, kebahagiaan, dan kedamaian mereka; dan untuk mengembangkan kebijaksanaan yang mengarah pada realisasi Kebenaran Tertinggi.
Kebenaran yang meliputi Pertama, kebenaran bahwa keberadaan kita di dunia ini berada dalam kesukaran, tidak kekal, tidak sempurna, tidak memuaskan, penuh dengan konflik; Kedua, kebenaran bahwa kondisi-kondisi ini merupakan hasil dari sifat egois kita yang mementingkan diri sendiri berdasarkan pada ide yang salah mengenai diri; Ketiga, kebenaran bahwa adanya kepastian akan kemungkinan pelepasan, pembebasan, kemerdekaan dari kesukaran ini dengan pemberantasan secara total sifat egois yang mementingkan diri sendiri; dan Keempat, kebenaran bahwa pembebasan ini dapat dicapai melalui Jalan Tengah (jalan yang menuju terhentinya penderitaan) atau sering disebut jalan mulia berunsur delapan, yang terdiri dari delapan faktor, yang mendorong ke arah kesempurnaan akan kebijaksanaan yang terdiri dari: 1). Pengertian Benar, 2). Pikiran Benar; kemoralan (sila) terdiri dari: 3). Ucapan Benar, 4). Perbuatan Benar, 5). Pencaharian Benar; disiplin mental terdiri dari: 6). Daya-upaya Benar, 7). Perhatian Benar, 8). Konsentrasi Benar.
Adapun lebih jelasnya dapat dirincikan sebagai berikut:
1)   Pengertian Benar yakni pemahaman benar adalah pengetahuan yang disertai dengan
penembusan terhadap:
a.   Empat kesunyataan mulia yakni:
·    Penderitaan: kelahiran, usia tua, kematian, kesakitan, keluh kesah, ratap tangis, kesedihan, dan putus asa adalah penderitaan; berpisah dengan yang dicintai dan bertemu dengan yang tidak disukai, tidak mendapatkan apa yang diinginkan adalah penderitaan. Singkatnya lima kelompok kemelekatan adalah penderitaan.
·     Sebab Penderitaan: "Itulah nafsu keinginan yang mengakibatkan kelahiran kembali yang berulang, dengan disertai oleh hawa nafsu akan kenikmatan indria dan kesenangan indria. Misalnya, nafsu keinginan terhadap perasaan sensual, nafsu keinginan terhadap yang berwujud maupun yang tidak berwujud”.
·    Lenyapnya Penderitaan: "Itulah penghancuran kegemaran dan pelenyapan keinginan; ditolak, dilepas, dan ditinggalkannya nafsu keinginan. Hal ini harus dilakukan oleh diri sendiri.
·    Jalan Menuju Lenyapnya penderitaan: "Itulah Jalan Mulia Berunsur Delapan yang terdiri dari: Pengertian Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar, Usaha Benar, Perhatian Benar, dan Konsentrasi Benar."   

b.   Tiga Corak Umum yakni:
merupakan tiga corak, ciri, karakteristik yang ada di setiap segala sesuatu atau fenomena yang terbentuk dari perpaduan unsur (berkondisi) yang ada di alam semesta ini, termasuk makhluk hidup. Ciri ini merupakan salah satu bentuk dari Hukum Kebenaran Mutlak  karena berlaku dimana saja dan kapan saja.
Adapun ketiga corak, ciri, karakteristik terdiri dari;
   1.Anicca
Anicca berasal dari kata ”an” yang merupakan bentuk negatif atau sering diterjemahkan sebagai tidak/bukan. Dan ”nicca” yang berarti tetap, selalu ada, kekal, abadi. Jadi kata ”an-nicca” berarti tidak tetap, tidak selalu ada, tidak kekal, tidak abadi, berubah. Dalam bahasa Sansekerta disebut juga sebagai anitya. Segala sesuatu yang berkondisi, terbentuk dari perpaduan unsur, merupakan sesuatu yang mengalami perubahan, tidak kekal. Semua fenomena yang ada di dalam alam semesta ini selalu dalam keadaan bergerak dan mengalami proses, yaitu timbul, kemudian berlangsung, dan kemudian berakhir/lenyap. Mengapa segala fenomena mengalami perubahan atau tidak kekal? Hal ini karena sudah menjadi sifat alami dari segala sesuatu yang terbentuk dari perpaduan unsur akan mengalami perubahan, ketidakkekalan.
   2.Dukkha
Dukkha berasal dari kata ”du” yang berarti sukar dan kata ”kha” yang berarti dipikul, ditahan. Jadi kata ”du-kha” berarti sesuatu atau beban yang sukar untuk dipikul. Jadi kata ”duh-kha” berarti sesuatu atau beban yang sukar untuk dipikul. Pada umumnya dukkha dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai penderitaan, ketidakpuasan, beban.
Segala sesuatu yang berkondisi, terbentuk dari perpaduan unsur, merupakan sesuatu yang tidak memuaskan yang akan menimbulkan beban berat atau penderitaan.Mengapa segala fenomena tidak memuaskan dan menimbulkan beban berat atau penderitaan? Hal ini dikarenakan segala fenomena tersebut mengalami perubahan, tidak kekal. Dan ketika kita tidak bisa memahami dan menerima bahwa segala fenomena selalu mengalami perubahan, tidak kekal, maka timbul perasaan ketidaksukaan, ketidakpuasan pada diri kita dan akhirnya menimbulkan beban berat atau penderitaan.
   3.Anatta
Anatta berasal dari kata ”an” yang merupakan bentuk negatif atau sering diterjemahkan sebagai tidak atau bukan. Dan ”atta” berarti berarti diri sejati atau inti/`roh`. Dalam bahasa Sanskerta disebut juga sebagai anatman. Jadi kata ”an-atta” berarti bukan diri sejati atau tanpa inti/`roh`.
Segala sesuatu yang berkondisi, terbentuk dari perpaduan unsur, dan juga sesuatu yang tidak berkondisi merupakan sesuatu yang tidak memiliki inti/`roh` dan bukan diri yang sejati.
Mengapa segala fenomena tidak ada inti atau bukan diri sejati?
Di jelaskan bahwa jasmani, perasaan, pencerapan, pikiran dan kesadaran disebut sebagai Panca Khanda (lima kelompok kehidupan/kegemaran) yang semuanya bukanlah diri sejati. Jika Khanda itu merupakan diri sejati, maka tidak akan mengalami penderitaan, dan semua keinginan seseorang akan kandha-nya akan terpenuhi, ”Biarkan Kandha-ku seperti ini dan bukan seperti itu.”
Tetapi karena khanda tidak dapat dikendalikan sesuai dengan keinginan atau harapan seseorang, ” Biarkan Kandha-ku seperti ini dan bukan seperti itu”, dan juga mengalami penderitaan, maka dikatakan bahwa kandha bukanlah diri sejati.

c.   Sebab Musabab yang Saling Bergantungan:
Hukum sebab-musabab yang saling bergantungan merupakan salah satu ajaran yang terpenting dalam kehidupan. Sebab Musabab yang Saling Bergantungan adalah suatu ajaran yang menyatakan adanya sebab-musabab yang terjadi dalam kehidupan semua makhluk, khususnya manusia. Secara sederhana Sebab Musabab yang Saling Bergantungan yang juga merupakan hukum sebab akibat yang dapat dipahami dengan rumusan seperti di bawah ini:
·     Dengan adanya ini, maka terjadilah itu.
·     Dengan timbulnya ini, maka timbulah itu.
·     Dengan tidak adanya ini, maka tidak adalah itu.
·     Dengan terhentinya ini, maka terhentilah juga itu.
Dengan menganalisa rumusan atau prinsip yang saling menjadikan, relatifitas, dan saling bergantungan ini, maka dapat ditemukan 12 sebab-musabab yang ada dalam setiap makhluk khususnya manusia. Keduabelas sebab musabab itu yaitu:
1.   Dengan adanya ketidaktahuan/kebodohan, maka muncullah bentuk-bentuk  
      perbuatan.
2.   Dengan adanya bentuk-bentuk perbuatan, maka muncullah kesadaran.
3.   Dengan adanya kesadaran, maka muncullah batin dan jasmani.
4.   Dengan adanya batin dan jasmani, maka muncullah enam indera.
5.   Dengan adanya enam indera, maka muncullah kesan-kesan.
6.   Dengan adanya kesan-kesan, maka muncullah perasaan
7.   Dengan adanya perasaan, maka muncullah keinginan/kehausan.
8.   Dengan adanya keinginan/kehausan, maka muncullah kemelekatan.
9.   Dengan adanya kemelekatan, maka muncullah proses tumimbal lahir.
10. Dengan adanya Bhava (proses tumimbal lahir), maka muncullah Jati (kelahiran
      kembali).
11. Dengan adanya kelahiran kembali, maka muncullah kelapukan, kematian, keluh-kesah, sakit, dan sebagainya.
12. Kelapukan, kematian, keluh-kesah, sakit, dan sebagainya merupakan akibat dari adanya kelahiran kembali.
Dengan terhentinya dan tidak munculnya salah satu penyebab yaitu ketidaktahuan/kebodohan, maka terhenti dan tidak muncul pula sebab-musabab yang mengikutinya. Dengan terhentinya ketidaktahuan/kebodohan maka tidak akan muncul kedua belas sebab musabab di atas tersebut.

d.   Hukum Karma/Perbuatan
Kamma (bahasa Pali) atau Karma (bahasa Sanskerta) berarti perbuatan atau aksi. Jadi, karma/perbuatan berarti semua jenis kehendak, perbuatan yang baik maupun buruk/jahat, yang dilakukan oleh jasmani, perkataan dan pikiran, yang baik maupun yang jahat. Hukum Karma merupakan salah satu hukum alam yang berkerja berdasarkan prinsip sebab akibat. Selama suatu makhluk berkehendak, melakukan (perbuatan) sebagai sebab maka akan menimbulkan akibat atau hasil. Atau bisa juga bahwa Hukum karma adalah hukum sebab dan akibat. Secara mudah, sering dicontohkan dengan menanam padi, tumbuh padi. Artinya, segala yang kita lakukan, maka buahnya akan kembali pada diri kita sendiri. Seseorang bisa memiliki umur pendek, karena dia telah menanam umur pendek (pembunuhan) juga pada mahluk lain, baik dalam kehidupan ini maupun yang lampau.
Sedangkan orang yang berusia panjang, adalah karena dalam kehidupan lampau maupun saat ini banyak melakukan upaya penyelamatan mahluk lain, sedangkan penderitaan yang dialaminya, adalah buah dari karma buruk lainnya yang pernah dia lakukan. Demikian pula dengan orang yang usia pendek tapi berbahagia adalah karena dia telah melakukan hal-hal yang dapat memperpendek umur mahluk lain, tapi di samping itu, dia juga telah melakukan kebajikan-kebajikan yang lainnya.
Perlu diketahui bahwa cara bekerja Kamma/karma adalah "Sesuai dengan benih yang di tabur, begitulah buah yang akan dipetiknya. Pembuat kebajikan akan mendapatkan kebaikan, pembuat kejahatan akan memetik kejahatan pula. Taburlah biji-biji benih dan engkau pulalah yang akan merasakan buah dari padanya".
2)  Pikiran Benar; adalah pikiran yang bebas dari; Pikiran yang bebas dari nafsu-nafsu keduniawian, Pikiran yang bebas dari kebencian, Pikiran yang bebas dari kekejaman
3)  Ucapan Benar; adalah berusaha menahan diri dari berbohong, memfitnah, berucap kasar/caci maki, dan percakapan-percakapan yang tidak bermanfaat/pergunjingan. Dapat dinamakan ucapan benar, jika dapat memenuhi empat syarat di bawah ini: Ucapan itu benar, Ucapan itu beralasan, Ucapan itu berfaedah, Ucapan itu tepat pada waktunya.
4) Perbuatan Benar; adalah berusaha menahan diri dari pembunuhan, pencurian, perbuatan melakukan perbuatan seksualitas yang tidak dibenarkan (asusila), perkataan tidak benar, dan penggunaan cairan atau obat-obatan yang menimbulkan ketagihan dan melemahkan kesadaran.
5)  Pencaharian Benar; Pencaharian/Penghidupan Benar berarti menghindarkan diri dari bermata pencaharian yang menyebabkan kerugian atau penderitaan makhluk lain. Terdapat lima objek perdagangan yang seharusnya dihindari yakni: makhluk hidup, senjata, daging atau segala sesuatu yang berasal dari penganiayaan makhluk-makhluk hidup, minum-minuman yang memabukkan/yang dapat menimbulkan ketagihan, dan racun. Selain itu juga terdapat lima pencaharian salah yang harus dihindari, antara lain: Penipuan, Ketidak-setiaan, Penujuman, Kecurangan, Memungut bunga yang tinggi (praktek lintah darat)
6)  Daya-upaya Benar; Daya upaya Benar/Usaha Benar dapat diwujudkan dalam empat bentuk tindakan, yaitu: berusaha mencegah munculnya kejahatan baru, berusaha menghancurkan kejahatan yang sudah ada, berusaha mengembangkan kebaikan yang belum muncul, berusaha memajukan kebaikan yang telah ada.
7)  Perhatian Benar; Perhatian Benar dapat diwujudkan dalam empat bentuk tindakan,yaitu: perhatian penuh terhadap badan jasmani, perhatian penuh terhadap perasaan, perhatian penuh terhadap pikiran, perhatian penuh terhadapmental/batin.
8)  Konsentrasi Benar; Konsentrasi Benar berarti pemusatan pikiran pada obyek yang tepat sehingga batin mencapai suatu keadaan yang lebih tinggi dan lebih dalam.
Semoga dengan pengetahuan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Pengetahuan ini diperoleh dari berbagai media informasi berupa media massa, elektronik baik yang didengar maupun di baca, ceramah, pendidikan, pengetahuan dari bermasyarakat, perjalanan hidup, kesadaran diri melalui pencerahan hati, dan sebagainya. Secara jelas pengetahuan ini bisa menambah wawasan/bisa juga dijadikan nasehat/ajaran bagi kita sebagai manusia anggota warga bumi dalam mengarungi kehidupan.
Perlu diingat bahwa semua nasehat/ajaran yang kita terima di kehidupan ini baik berasal dari manapun datangnya atau lain agama/keyakinan sekalipun tak jadi soal. Terpenting nasehat/ajaran itu bisa membuat pencerahan manusia dan dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan yang sudah jelas memiliki konsekuensi logis yakni penderitaan. Akhirnya informasi ini dapat kita jadikan ghiroh dalam berbuat kebaikan kepada sesama warga bumi tanpa MEMANDANG, MEMBEDAKAN apapun, terlebih dengan makhluk yang lain yakni tumbuhan dan binatang. Dan kalau tidak bisa kita melakukan perbuatan yang baik tersebut hendaknya janganlah saling menyakiti sesama warga bumi atau sesama makhluk yang lain.
Mohon maaf bila ada kesalahan yang berbentuk dan sekecil apapun akhir kata SEMOGA  semua makhluk BERBAHAGIA dan bebas dari DERITA.